Tambora Mengguncang Dunia

Oleh: Administrator - Dibaca: 2 x / Senin, 08 Mei 2017 - 12:37:11 WIB / Resensi Buku

THIS ARTICLE IS SAMPLE FOR CONTENT, IT GRAB FROM NEWS WEBSITE.

Presiden Joko Widodo menetapkan kawasan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional Gunung Tambora (TNGT). Deklarasi berlangsung meriah di lapangan Doro Ncanga, Desa Doro Peti, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (11 April 2015). Kegiatan Presiden ini termasuk rangkaian peringatan Dua Abad Letusan Tambora yang terjadi pada April 1815. Bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Pariwisata, Gubernur NTB, dan Bupati Dompu, Presiden menandatangani surat resmi perihal peningkatan status TNGT tersebut. Tak cuma itu, di hadapan ribuan masyarakat yang hadir, Presiden yang juga didampingi Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, menginstruksikan kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Daerah Dompu serta Bima, untuk menjadikan momentum peringatan letusan Tambora sebagai agenda tahunan yang wajib dimeriahkan. “Saya sudah bisikin ke Menteri Pariwisata, agar setiap tahun ada Festival Tambora. Akan dibiayai dari Pemerintah Pusat, biar semua tahu di mana itu Dompu, Bima, NTB, dan juga Indonesia,” urai Joko Widodo seraya berpesan agar TNGT dijaga dan dirawat, jangan sampai rusak.

Perhatian Pemerintah terhadap kawasan sekitar Gunung Tambora sebenarnya menambah daftar panjang keterlambatan terhadap upaya pelestarian warisan budaya Tambora. Logikanya, bagaimana mungkin setelah 200 tahun letusan Tambora, “negara” baru hadir dan mendeklarasikan TNGT? Padahal, “orang luar” sudah lebih dulu memberi perhatian bahkan terjun langsung melakukan penelitian di lapangan. Pertanyaan miris terkait peran negara ini tidak ‘asbun’, asal bunyi. Maklum, sejak tiga sampai empat dasawarsa terakhir, benda-benda berharga yang berasal dari dua kerajaan, Tambora dan Pekat, sudah berhasil ditemukan dan ramai-ramai dimiliki masyarakat. Dua kerajaan ini memang lenyap terkubur seketika, menyusul letusan dahsyat Gunung Tambora yang ukuran daya eksplosif secara vulkanologi atau Volcanic Explosivity Index (VEI) mencapai angka 7. Sebagai perbandingan, letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, hanya memiliki angka VEI 6. Padahal, letusan Krakatau kekuatannya sama dengan 30.000 kali ledakan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. Baca tulisan [Dua Abad Letusan Tambora] Menghimpun Peradaban Pompeii dari Timur, yang menjadi Headline Kompasiana edisi Jumat, 10 April 2015. Fakta tentang maraknya penggalian liar yang dilakukan masyarakat di lereng Tambora, merupakan salah satu yang diungkap Buku Seri Ekspedisi Cincin Api Kompas – TAMBORA MENGGUNCANG DUNIA. Kehadiran buku yang baru diterbitkan 2015 ini oleh Penerbit Buku Kompas ini tak ayal menambah khasanah pengetahuan publik terhadap dua abad letusan Tambora. Buku setebal 80 halaman yang ditulis oleh Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, dan Khaerul Anwar ini terdiri dari enam tulisan feature pendek, yang dikemas secara populer, informatif, edukatif, dan reportase yang faktual.

Cerita tentang awal mula penemuan benda-benda berharga warisan masyarakat dan kerajaan yang terkubur di lereng Tambora misalnya, dapat dijumpai pada bab berjudul Pompeii dari Timur. Disitu disebutkan, jejak berharga penemuan artefak warisan budaya masyarakat sekitar Tambora ditemukan secara kebetulan oleh para pekerja perusahaan kayu PT Veneer Products Indonesia. Perusahaan kayu ini beroperasi di lereng Tambora sejak 1972 karena tegiur dengan Pohon Klanggo (Duabanga moluccana) yang tumbuh lebat. Suatu sore di tahun 1979, buldoser perata jalan melindas keramik, gerabah, senjata, perhiasan emas dan permata, serta aneka barang berharga lainnya. Temuan ini segera menyedot warga untuk berburu harta di pinggir sungai itu. “Tiba-tiba ratusan orang datang dan menggali di sini,” kisah Suparno, Kepala Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Bima di Oi Bura. “Banyak yang menemukan barang-barang dari emas dan perak, bahkan ada yang menemukan tengkorak manusia.” Sebagian temuan itu disimpan warga hingga kini dan sebagian dijual kepada kolektor yang datang berbondong. (hal. 18) Singkat cerita, kala itu, kehebohan aktivitas penggalian harta karun ini berhasil dikendalikan aparat keamanan setempat. Seiring kisah itu, dengan cerdik, buku ini menyisipkan kalimat: “Namun, pemerintah masih menutup mata. Tak ada tim arkeolog ataupun pejabat pemerintah yang datang ke Oi Bura untuk menelisik lebih jauh”.

Ke Atas